Sunday, 10 March 2013

Cara Mengatasi Pemanasan Global

 
1.    Penanaman Hutan Kembali
Pengundulan hutan terbukti meningkatkan suhu permukaan bumi. Bila pohon-pohon di hutan di tebang, fungsi pohon untuk menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida menjadi hilang. Selama masa hidupnya, satu pohon dapat menyerap satu ton CO2. Satu batang pohon berukuran agak besar mampu menyerap 6kg CO2 per tahun. Penanaman kembali pada lahan gundul akan mengendalikan daya serap pohon terhadap gas CO2 di atmosfer. Pemerintah melalui Departemen Kehutanan menargetkan pada dua ratus orang Indonesia mampu menanam 230 juta batang pohon. Upaya ini dilakukan dalam rangka berpatisipasi mengendalikan perubahan iklim dan pemanasan global melalui gerakan “One Man One Tree”.
Pemuda dapat berperan dalam program pemerintahan, yaitu Aksi Penanaman Serentak. Kampanye Indonesia Menanam dicanangkan pemerintah pada 22 April 2006. Pemerintah menetapkan 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Pencanangan itu ditetapkan pada saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono memimpin Aksi Penanaman Serentak 100 juta pohon di Cibinong, Jawa Barat. Generasi muda diharapkan menjadi yang terdepan dalam mendukung gerakan menanam pohon. Gerakan menanam pohon akan memulihkan hutan yang rusak akibat pengundulan hutan. Gerakan menanam tidak terbatas pda lahan bekas, tetapi  dapat juga dilakukan di lingkungan sekitar rumah. Selain itu, diperlukan juga penanaman kembali lahan hutan bakau yang rusak di pantai. 
2.    Aksi Hemat Energi 
Pemanfaatan energi untuk memenuhi kebutuhan manusia berdampak pada peningkatan kadar gas-gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Kegiatan industri, pembangkit listrik, dan transportasi membutuhkan banyak bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil merupakan sumber energi tidak terbarukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca adalah mengurangi penggunaan sumber energi tidak terbarukan. Masyarakat harus memulai menggunakan sumber energi terbarukan, seperti panas Matahari, tenaga air, tenaga angin, dan kekuatan otot. Krisi energi menjadi tantangan bagi generasi muda. Pemborosan energi akan menguras sumber daya alam yang tidak terbarukan. Generasi muda dituntut untuk melakukan aksi penghematan energi. Aksi dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan rumah.
Beberapa contoh aksi penghematan energi adalah mematikan lampu, televisi, dan peralatan elektronik yang menggunakan listrik bila tidak diperlukan. Mengganti lampu pijar dengan lampu hemat energi. Membuka jendela dan ventilasi agar ruangan terang dan sejuk sehingga tidak membutuhkan lampu dan kipas angin di siang hari.
Aksi penghematan energi dan pengurangan emisi CO2 di lingkungan luar rumah dapat dilakukan sebagai berikut  :
a.    Mengendarai sepeda atau barjalan kaki untuk bepergian jarak dekat sebagai pengganti kendaraan bermotor.
b.    Memilih menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi yang dikendarai sendiri.
c.    Mananam pohon atau membuat taman di lingkungan rumah. 
 
3.    Sedikit Sampah Lebih Baik
Tumpukan sampah turut menyumbang terjadinya pemanasan global. Pengelolahan sampah yang baik akan menekam terjadinya pemanasan global. Pengelolahan dapat dilakukan generasi muda dengan tindakan reduce, reuse, recycle, replace dan composting.
Reduce (mengurangi), sedapat mungkin meminimalkan barang atau material yang dipergunakan. Semakin banyak menggunakan material, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Reuse (menggunakan kembali), menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai. Contohnya, kertas warna-warni dari majalah bekas di manfaatkan untuk bungkus kado. Menghindari barang yang hanya sekali pakai atau langsung buang (disposable). Replace (mengganti), mengganti barang hanya dapat dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Contohnya, mengganti kantong kresek dengan kerancang bila berbelanja. Tidak menggunakan Styrofoam karena bahan ini tidak dapat terurai secara alami. Recycle (mendaur ulang), sampah diubah menjadi produk baru. Sampah yang di daur ulang adalah brang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, seperti kertas, alumunium, gelas, dan plastik. Saat ini banyak industri nonformal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang baru. Composting (pembuatan kompos), proses pembusukan secara alami dari meteri organik, misalnya daun, limbah pertanian, dan sisa makanan. Pembusukan dapat menghasilkan meteri yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor, dan kalium yang disebut kompos untuk pupuk tanaman.

Dampak Akibat Pemanasan Global

 
Pemanasan global berdampak pada kehidupan di bumi. Dampak pemanasan global, antara lain, es di kutup mencair, kenaikan permukaan air laut, peningkatan cuaca yang ekstrim, perubahan intesitas dan pola hujan, penurunan produksi pertanian, dan kepunahan berbagai jenis flora dan fauna.
1.    Es Antartika Makin Tipis
 
Para Ilmuan memperkirakan bahwa selama berlangsung pemanasan global, daerah bagian utara belahan Bumi Utara lebih panas disbanding daerah-daerah bagian lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gungung es mencair dan daratan menyusut, masa es yang mengapung diperairan utara akan berkurang, dan salju ringan tidak lagi dialami daerah-daerah tertentu yang sebelumnya mengalaminya. Daerah pegunungan subtropics akan semakin sedikit tertutup salju dan salju akan cepat mencair. Lapisan es di kutub Utara Artika makin menyusut. Melalui pantauan satelit sejak 1979, lapisan es yang tipis pada musim panas menjadi lebih rentan disbanding 30 tahun sebelumnya. Lapisan es normal pada musim panas setebal 10 meter atau lebih membentang mulai batas tanah hijau ( greenland ) dan Kanada sampai Rusia. Ketebalan es pada musim dingin menurun.
Lapisan es di kutub Utara Antartika sangat penting untuk menyerap sinar matahari dibumi. Semakin tebal lapisan es, semakin banyak panas yang diserap. Ada indikasi baru bahwa lampengan es mungkin akan terlepas dari Antartika Citra Satelit Badan Angkasa Eropa (ESA) menunjukan jembatan es sepanjang 40 km telah runtuh. Menurut para Ilmuwan hal itu disebabkan oleh pemanasan global. Citra Satelit ESA menunjukkan gunung-gunung es baru terbentuk. Gunung es itu berasal dari pecahan jembatan es yang mengapung di laut di bagian barat Semenanjung Artantika. Bongkahan es raksasa menonjol dari Antartika menuju ujung Selatan Amerika Selatan.
2.    Air Laut Menjangkau Daratan
Efek rumah kaca membuat suhu atmosfer semakin panas. Kenaikan suhu atmosfer menyebabkan suhu air laut menghangat sehingga volumenya membesar. Kenaikan suhu atmosfer juga akan mencairkan lapisan es di kutub sehingga menambah volume air laut. Suhu air laut yang menghangat dan lapisan es yang mencair akan menaikkan tinggi permukaan laut. Selama abad ke-20 kenaikan tinggi permukaan air laut dunia telah mencapai 10-25cm. IPCC memperkirakan kenaikan permukaan laut pada abad ke-21 mencapai 9-88cm.
Perubahan tinggi permukaan laut akan mempengaruhi daerah pantai. Sebagian wilayah Negara yang berbatasan dengan laut akan tenggelam. Contohnya, kenaikan 100cm permukaan laut akan menenggelamkan 6% daratan Belanda dan 17,5% daratan Bangledest. Kenaikan tinggi permukaan laut memengaruhi ekosistem pantai. Rawa-rawa  di daerah pantai akan tenggelam dan rawa-rawa baru terbentuk di daerah perkotaan atau daerah terbangun. Misalnya, kenaikan 50cm permukaan laut akan menenggelamkan separuh daerah rawa di Amerika Serikat. Dampak lain adalah air laut semakin masuk daratan di muara sungai.
Banjir pasang laut di daratan semakin meningkat. Pantai-pantai mengalami abrasi sehingga bukit-bukit pasir akan hilang.
3.    Hawa Semakin Panas
Akhir-akhir ini mungkin banyak orang merasakan hawa yang berbeda bila dibanding dengan beberapa  tahun yang lalu. Hawa terasa gerah saat hari cerah. Panas sinar matahari menyengat saat tengah hari dan sehabis hujan hawa tidak terlalu dingin. Fonomena tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi kenaikan suhu udara di atmosfer. Peningkatan panas atmosfer menyebabkan laut sebagai bagian teluas di bumi juga bertambah panas. Beberapa indikator bahwa hawa semakin panas adalah sebagai berikut :
1.    Suhu permukaan bumi telah mengalami kenaikan, dan dalam keadaan terpanas selama 2.000 terakhir.
2.    Suhu permukaan bumi meningkat secara signifikan terutama di kutub es. Daratan dan permukaan air baru muncul mudah menyerap panas matahari sehingga suhu kutub semakin panas dan es mencair.
3.    Suhu di kutub utara mengalami kenaikan tiga kali disbanding suhu rata-rata dunia. Bila terjadi kenaikan suhu permukaan bumi sebesar 30C, dalam 100 tahun kedepan permukaan laut akan naik 7 meter. Banyak daratan rendah di bumi tenggelam dan lenyap dari peta bumi.
4.    Pembakara bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan batu bara, meningkatkan kadar CO2 di atmosfer dan membuat air laut semaki asam. Keasaman air laut yang meningakat akan mematikan berbagai jenis ikan dan mengubah pola migrasi dan pemijahan.
Damapak kenaikan suhu permukaan bumi, antara lain :
1.    Bila suhu permukaan bumi naik 10C, gelombang pasang akan menenggelamkan rumah-rumah di pesisir, terjadi angin topan di Atlantik Selatan, dan kekeringan hebat di barat Amerika yang mengakibatkan produksi pertanian menurun.
2.    Bila suhu permukaan bumi naik 20C, akan mematikan banyak ekosistem terumbu karang dan ikan, banjir terjadi di banyak tempat, dan produktivitas pertanian menurun sehingga harga pangan naik.
3.    Bila suhu permukaan bumi naik 30C, hutan basah Amazon akan terbakar dan berkurang luasanya. Hutan Amazon yang memasok 20% oksigen dunia terancam punah sehingga hawa semakin panas.
4.    Bila suhu permukaan bumi naik 40C, kota-kota seperti Jakarta, Bangkok, London< mesir, dan Bangladesh akan tenggelam.
5.    Bila suhu permukaan bumi naik 50C, dunia akan mengalami krisis ekonomi dan politik. Konflik perebutan sumber daya ikan terjadi karena laut di daerah subtropis tidak lagi menjadi habitat ikan.
4.    Spesies Flora dan Fauna Berkurang
Pemanasa global mengakibatkan lapisan es di Arktika dan Antartika mencair. Selama musi panas di Arktika, beruang kutub berjalan jauh dari daratan es untuk berburu makanan. Bila massa di kutub mencair semakin banyak di musim panas, daerah perburua beruang kutub akan berkurang sehingga terjadi kekurangan makanan di musim dingin.pencairan es di Antartika menyebabkan habitat penguin semakin sempit. Penguin membutuhkan daerah es laut yang luas untuk hidup dan berkembangbiak. Daerah es laut yang luas membuat penguin aman dari ancaman hewan lain yang memburunya. Bila suhu air laut meningkat, sehingga banyak massa es mencair, penguin tidak lagi aman dan hidup bebas.
Hewan dan tumbuhan sulit menghindari dampak pemanasan global selama. Selama pemanasan global, hewan cenderung berpindah ke daerah yang dingin, seperti pengunungan dan daerah kutub karena habitatnya terlalu hangat. Namum, permukiman dan lahan pertanian menghalangi migrasi hewan. Ketika iklim gunung yang dingin menghangat, habitat tumbuhan pun berubah. Tumbuhan pegunungan Alpen yang biasa hidup dalam cuaca dingin bertunas semakin keatas untuk menghindari peningkatan suhu atmosfer. Di daerah tropis seperti Indonesia, penyusutan luas hutan bakau akibat kenaikan permukaan laut akan memusnakan jenis flora dan fauna tertentu. Suhu atmosfer yang semakin panas dapat meningkatkan kebakaran hutan sehingga berbagai jenis flora dan fauna hutan terancam punah.


Penyebab Terjadinya Global Warming

 
1.    Industri
 
 
Kegiata manusia, seperti industri dan transportasi, berperan besar dalam peningkatan kadar gas-gas rumah kaca. Selama 50 tahun terakhir, 90% gas rumah kaca, seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida telah meningkatkan suhu permukaan bumi. Kegiatan industri membutuhkan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Energi dari bahan bakar fosil menghasilkan banyak gas rumah kaca. Sebanyak 19,4% emisi gas rumah kaca dihasilkan industri energi (pembangkit listrik dan kilang minyak) dan industri umum, seperti industri emen, besi, baja, pupuk, kaca, kertas, dan keramik. Sumber emisi rumah kaca sektor industri berasal dari pembakaran dari bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan batubara.

2.    Transpotasi
Sebelum abad ke-19, kegiatan transportasi banyak menggunakan sarana kereta kuda sehingga tidak menimbulkan polusi terhadap lingkungan. Sejak revolusi Industri pada abad ke-19, semakin banyak pabrik dibangun dan kendaraan bermotor dibuat. Gas-gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan industri dan transportasi semakin banyak sehingga memicu terjadinya global warming. Kegiatan transportasi darat, udara, dan laut menyumbang emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%. Kendaraan bermotor memanfaatkan bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar sebagai bahan bakar. Pembakaran bensin dan solar menghasilkan gas karbon dioksida yang dibuang ke udara. Jumlah kendaraan bermotor yang semakin banyak menyebabkan kemacetan di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. Akibat yang ditimbulkan, gas karbon dioksida yang dibuang ke udara semakin banyak.
3.    Kerusakan Hutan
 
 Indonesia karya sumber daya hutan. Luas hutan di wilayah Indonesia kurang lebih 85 juta hectare. Hutan Indonesia berperan untuk menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Hutan hujan tropis dunia yang luas tumbuh di wilayah Basin Amazon (Amerika Selatan), Basin Zaire (Afrika), dan Asia tenggara. Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang tumbuh lebat di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Kerusakan hutan memengaruhi pemanasan global. Penebangan liar (Illegal logging), pengundulan hutan, dan alih fungsi hutan menyebabkan perubahan iklim. Perubahan iklim ditandai oleh berkurangnya intesitas curah hujan dan udara yang semakin panas. Kerusakan hutan Indonesia karena kegitan penebangan menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Menurut Badan Koordinator Nasional Penanggulanan Bencana, 85% dari 647 kejadian bencana alam di Inonesia selama 1998-2003 merupakan bencana banjir dan tanah longsor akibat kerusakan hutan.
Pengundulan dan pembakaran hutan meningkatkan kadar karbon di atmosfer sekaligus menghilangkan kemampuan hutan menyerap karbon. Kurang lebih 20% emisi karbon di atmosfer di hasilkan oleh kegiatan manusia. Alih fungsi lahan menyumbang kira-kira 17,4% karbon dioksida. Dalam jangka waktu 50 tahun terakhir tindakan manusia telah merusak 50% hutan dunia. Akibat yang ditimbulkan jutaan ton karbon di lepas ke atmosfer, suhu udara semakin panas, dan iklim berubah. Usaha pencegahan dan pemulihan kerusakan hutan Indonesia harus dilakukan. Penghutanan kembali atau reboisasi akan menghindari dampak pemanasan global yang lebih parah.
4.    Penumpukan Sampah
 
 
 Sampah diartikan sebagai bahan sisa yang tidak di butuhkan setelah suatu proses terakhir. Sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Bila telah menumpuk, sampah akan menjadi limbah yang menimbulkan bau busuk menyengat. Sampah dapat berada dalam fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam fase gas, sampah dikenal dengan emisi. Emisi biasa diartikan dengan polusi. Sampah yang masuk dalam lingkungan air, udara, dan tanah menyebabkan kualitas lingkungan menurun. Sampah bersifat organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dapat diurai, contohnya daun-daunan, sayuran, dan sampah dapur. Sampah anorganik adalah sampah yang tidak terurai, contohnya plastic, botol, dan kaleng bekas.
Sampah dalam jumlah besar biasanya berasal dari kegiatan industri dan konsumsi. Laju pengurangan sampah yang lebih kecil dibanding laju produksi membuat sampah semakin menumpuk. Sampah yang menumpuk akan berpengaruh pada perubahan iklim akibat pemanasa global. Tumpkan sampah akan menghasilkan berton-ton gas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut akan melanyang ke udara dan meningkatkan gas rumah kaca di atmosfer. Gas CO2 dalam jumlah besar tidak hanya berasal dari pemumpukan sampah, tetapi juga dapat berasal dari pembakaran sampah.


Pengertian Pemanasan Global Warming

 
Pengertian pemanasan global warming adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intesitas cuaca ekstrim, serta perubahan dan pola persipitasi.
Para Ilmuan telah lama meneliti pemanasan global. Kelompok penelitian dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu Panel Antar Pemerintah tentang perubahan iklin (Intergovernmetal Panel On Climete Change – IPCC), menyimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi sejak pertengahan abad ke – 20. Berdasarkan model iklin dari IPCC, suhu permukaan bumi akan meningkat 1,1 – 6,40C antara 1990 hingga 2100. Pemanasan global diperkirakan akan terus berlanjut. Keadaan tersebut terjadi karena pengaruh lautan yang memiliki kapasitas panas sangat besar.
Planet bumi tetap hangat meskipun berada di tengah-tengah angkasa yang sangat dingin. Mengapa demikian? Efek rumah kaca telah membuat suhu di Bumi tetap hangat sehingga kehidupan tetap berlangsung. Sumber energy utama yang menghangatkan Bumi berasal dari Matahari. Sinar Matahari yang terus – menerus memancar ke Bumi sebagian besar diserap oleh permukaan bumi, sisanya di pantulkan kembali ke angkasa. Pantulan sinar Matahari dapat terperangkap akibat gas-gas rumah kaca. Proses terperangkapnya panas di atmosfer dikenal efek rumah kaca. Peningkatan kadar gas-gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan panas yang terperangkap semakin banyak. Hal itu membuat suhu Bumi semakin tinngi.
Efek rumah kaca terjadi melalui proses sebagai berikut :
1.    Energi sinar Matahari di pancarkan ke Bumi.
2.    Sebagian besar energi sinar Matahari ampai ke Bumi dan sebagian yang dipantulkan atmosfer ke angkasa.
3.    Energi yang diserap menghangatkan Bumi, sebagian dipancarkan kembali ke angkasa dalam bentuk sinar infra merah atau energi panas.
4.    Sebagian infra merah dipantulkan kembali ke Bumi oleh gas-gas rumah kaca di atmosfer.
5.    Berbagai kegitan manusia meningkatkan jumlah gas-gas di atmosfer.
6.    Semakin banyak gas rumah kaca, makin banyak energi yang dipancarkan sehingga suhu permukaan bumi meningkat dan hawa terasa semakin panas.