Sunday, 10 March 2013

Penyebab Terjadinya Global Warming

 
1.    Industri
 
 
Kegiata manusia, seperti industri dan transportasi, berperan besar dalam peningkatan kadar gas-gas rumah kaca. Selama 50 tahun terakhir, 90% gas rumah kaca, seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida telah meningkatkan suhu permukaan bumi. Kegiatan industri membutuhkan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Energi dari bahan bakar fosil menghasilkan banyak gas rumah kaca. Sebanyak 19,4% emisi gas rumah kaca dihasilkan industri energi (pembangkit listrik dan kilang minyak) dan industri umum, seperti industri emen, besi, baja, pupuk, kaca, kertas, dan keramik. Sumber emisi rumah kaca sektor industri berasal dari pembakaran dari bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan batubara.

2.    Transpotasi
Sebelum abad ke-19, kegiatan transportasi banyak menggunakan sarana kereta kuda sehingga tidak menimbulkan polusi terhadap lingkungan. Sejak revolusi Industri pada abad ke-19, semakin banyak pabrik dibangun dan kendaraan bermotor dibuat. Gas-gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan industri dan transportasi semakin banyak sehingga memicu terjadinya global warming. Kegiatan transportasi darat, udara, dan laut menyumbang emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%. Kendaraan bermotor memanfaatkan bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar sebagai bahan bakar. Pembakaran bensin dan solar menghasilkan gas karbon dioksida yang dibuang ke udara. Jumlah kendaraan bermotor yang semakin banyak menyebabkan kemacetan di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. Akibat yang ditimbulkan, gas karbon dioksida yang dibuang ke udara semakin banyak.
3.    Kerusakan Hutan
 
 Indonesia karya sumber daya hutan. Luas hutan di wilayah Indonesia kurang lebih 85 juta hectare. Hutan Indonesia berperan untuk menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Hutan hujan tropis dunia yang luas tumbuh di wilayah Basin Amazon (Amerika Selatan), Basin Zaire (Afrika), dan Asia tenggara. Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang tumbuh lebat di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Kerusakan hutan memengaruhi pemanasan global. Penebangan liar (Illegal logging), pengundulan hutan, dan alih fungsi hutan menyebabkan perubahan iklim. Perubahan iklim ditandai oleh berkurangnya intesitas curah hujan dan udara yang semakin panas. Kerusakan hutan Indonesia karena kegitan penebangan menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Menurut Badan Koordinator Nasional Penanggulanan Bencana, 85% dari 647 kejadian bencana alam di Inonesia selama 1998-2003 merupakan bencana banjir dan tanah longsor akibat kerusakan hutan.
Pengundulan dan pembakaran hutan meningkatkan kadar karbon di atmosfer sekaligus menghilangkan kemampuan hutan menyerap karbon. Kurang lebih 20% emisi karbon di atmosfer di hasilkan oleh kegiatan manusia. Alih fungsi lahan menyumbang kira-kira 17,4% karbon dioksida. Dalam jangka waktu 50 tahun terakhir tindakan manusia telah merusak 50% hutan dunia. Akibat yang ditimbulkan jutaan ton karbon di lepas ke atmosfer, suhu udara semakin panas, dan iklim berubah. Usaha pencegahan dan pemulihan kerusakan hutan Indonesia harus dilakukan. Penghutanan kembali atau reboisasi akan menghindari dampak pemanasan global yang lebih parah.
4.    Penumpukan Sampah
 
 
 Sampah diartikan sebagai bahan sisa yang tidak di butuhkan setelah suatu proses terakhir. Sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Bila telah menumpuk, sampah akan menjadi limbah yang menimbulkan bau busuk menyengat. Sampah dapat berada dalam fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam fase gas, sampah dikenal dengan emisi. Emisi biasa diartikan dengan polusi. Sampah yang masuk dalam lingkungan air, udara, dan tanah menyebabkan kualitas lingkungan menurun. Sampah bersifat organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dapat diurai, contohnya daun-daunan, sayuran, dan sampah dapur. Sampah anorganik adalah sampah yang tidak terurai, contohnya plastic, botol, dan kaleng bekas.
Sampah dalam jumlah besar biasanya berasal dari kegiatan industri dan konsumsi. Laju pengurangan sampah yang lebih kecil dibanding laju produksi membuat sampah semakin menumpuk. Sampah yang menumpuk akan berpengaruh pada perubahan iklim akibat pemanasa global. Tumpkan sampah akan menghasilkan berton-ton gas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut akan melanyang ke udara dan meningkatkan gas rumah kaca di atmosfer. Gas CO2 dalam jumlah besar tidak hanya berasal dari pemumpukan sampah, tetapi juga dapat berasal dari pembakaran sampah.


No comments:

Post a Comment