1.
Industri
2.
Transpotasi
Sebelum abad ke-19, kegiatan
transportasi banyak menggunakan sarana kereta kuda sehingga tidak menimbulkan
polusi terhadap lingkungan. Sejak revolusi Industri pada abad ke-19, semakin
banyak pabrik dibangun dan kendaraan bermotor dibuat. Gas-gas rumah kaca yang
dihasilkan dari kegiatan industri dan transportasi semakin banyak sehingga
memicu terjadinya global warming. Kegiatan transportasi darat, udara, dan laut
menyumbang emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%. Kendaraan bermotor memanfaatkan
bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar sebagai bahan bakar. Pembakaran
bensin dan solar menghasilkan gas karbon dioksida yang dibuang ke udara. Jumlah
kendaraan bermotor yang semakin banyak menyebabkan kemacetan di kota-kota
besar, seperti Jakarta dan Bandung. Akibat yang ditimbulkan, gas karbon
dioksida yang dibuang ke udara semakin banyak.
3.
Kerusakan
Hutan
Indonesia karya sumber daya hutan.
Luas hutan di wilayah Indonesia kurang lebih 85 juta hectare. Hutan Indonesia
berperan untuk menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Hutan hujan
tropis dunia yang luas tumbuh di wilayah Basin Amazon (Amerika Selatan), Basin
Zaire (Afrika), dan Asia tenggara. Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang
tumbuh lebat di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Kerusakan hutan memengaruhi pemanasan
global. Penebangan liar (Illegal logging), pengundulan hutan, dan alih fungsi
hutan menyebabkan perubahan iklim. Perubahan iklim ditandai oleh berkurangnya
intesitas curah hujan dan udara yang semakin panas. Kerusakan hutan Indonesia
karena kegitan penebangan menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap bencana
banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Menurut Badan Koordinator Nasional
Penanggulanan Bencana, 85% dari 647 kejadian bencana alam di Inonesia selama
1998-2003 merupakan bencana banjir dan tanah longsor akibat kerusakan hutan.
Pengundulan dan pembakaran hutan
meningkatkan kadar karbon di atmosfer sekaligus menghilangkan kemampuan hutan
menyerap karbon. Kurang lebih 20% emisi karbon di atmosfer di hasilkan oleh
kegiatan manusia. Alih fungsi lahan menyumbang kira-kira 17,4% karbon dioksida.
Dalam jangka waktu 50 tahun terakhir tindakan manusia telah merusak 50% hutan
dunia. Akibat yang ditimbulkan jutaan ton karbon di lepas ke atmosfer, suhu
udara semakin panas, dan iklim berubah. Usaha pencegahan dan pemulihan
kerusakan hutan Indonesia harus dilakukan. Penghutanan kembali atau reboisasi
akan menghindari dampak pemanasan global yang lebih parah.
4.
Penumpukan
Sampah
Sampah diartikan sebagai bahan sisa
yang tidak di butuhkan setelah suatu proses terakhir. Sampah adalah barang atau
benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Bila telah menumpuk, sampah akan
menjadi limbah yang menimbulkan bau busuk menyengat. Sampah dapat berada dalam
fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam fase gas, sampah dikenal
dengan emisi. Emisi biasa diartikan dengan polusi. Sampah yang masuk dalam
lingkungan air, udara, dan tanah menyebabkan kualitas lingkungan menurun.
Sampah bersifat organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dapat
diurai, contohnya daun-daunan, sayuran, dan sampah dapur. Sampah anorganik
adalah sampah yang tidak terurai, contohnya plastic, botol, dan kaleng bekas.
Sampah dalam jumlah besar biasanya
berasal dari kegiatan industri dan konsumsi. Laju pengurangan sampah yang lebih
kecil dibanding laju produksi membuat sampah semakin menumpuk. Sampah yang
menumpuk akan berpengaruh pada perubahan iklim akibat pemanasa global. Tumpkan
sampah akan menghasilkan berton-ton gas karbon dioksida (CO2) dan
metana (CH4). Gas-gas tersebut akan melanyang ke udara dan
meningkatkan gas rumah kaca di atmosfer. Gas CO2 dalam jumlah besar
tidak hanya berasal dari pemumpukan sampah, tetapi juga dapat berasal dari
pembakaran sampah.



No comments:
Post a Comment