Sunday, 10 March 2013

Dampak Akibat Pemanasan Global

 
Pemanasan global berdampak pada kehidupan di bumi. Dampak pemanasan global, antara lain, es di kutup mencair, kenaikan permukaan air laut, peningkatan cuaca yang ekstrim, perubahan intesitas dan pola hujan, penurunan produksi pertanian, dan kepunahan berbagai jenis flora dan fauna.
1.    Es Antartika Makin Tipis
 
Para Ilmuan memperkirakan bahwa selama berlangsung pemanasan global, daerah bagian utara belahan Bumi Utara lebih panas disbanding daerah-daerah bagian lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gungung es mencair dan daratan menyusut, masa es yang mengapung diperairan utara akan berkurang, dan salju ringan tidak lagi dialami daerah-daerah tertentu yang sebelumnya mengalaminya. Daerah pegunungan subtropics akan semakin sedikit tertutup salju dan salju akan cepat mencair. Lapisan es di kutub Utara Artika makin menyusut. Melalui pantauan satelit sejak 1979, lapisan es yang tipis pada musim panas menjadi lebih rentan disbanding 30 tahun sebelumnya. Lapisan es normal pada musim panas setebal 10 meter atau lebih membentang mulai batas tanah hijau ( greenland ) dan Kanada sampai Rusia. Ketebalan es pada musim dingin menurun.
Lapisan es di kutub Utara Antartika sangat penting untuk menyerap sinar matahari dibumi. Semakin tebal lapisan es, semakin banyak panas yang diserap. Ada indikasi baru bahwa lampengan es mungkin akan terlepas dari Antartika Citra Satelit Badan Angkasa Eropa (ESA) menunjukan jembatan es sepanjang 40 km telah runtuh. Menurut para Ilmuwan hal itu disebabkan oleh pemanasan global. Citra Satelit ESA menunjukkan gunung-gunung es baru terbentuk. Gunung es itu berasal dari pecahan jembatan es yang mengapung di laut di bagian barat Semenanjung Artantika. Bongkahan es raksasa menonjol dari Antartika menuju ujung Selatan Amerika Selatan.
2.    Air Laut Menjangkau Daratan
Efek rumah kaca membuat suhu atmosfer semakin panas. Kenaikan suhu atmosfer menyebabkan suhu air laut menghangat sehingga volumenya membesar. Kenaikan suhu atmosfer juga akan mencairkan lapisan es di kutub sehingga menambah volume air laut. Suhu air laut yang menghangat dan lapisan es yang mencair akan menaikkan tinggi permukaan laut. Selama abad ke-20 kenaikan tinggi permukaan air laut dunia telah mencapai 10-25cm. IPCC memperkirakan kenaikan permukaan laut pada abad ke-21 mencapai 9-88cm.
Perubahan tinggi permukaan laut akan mempengaruhi daerah pantai. Sebagian wilayah Negara yang berbatasan dengan laut akan tenggelam. Contohnya, kenaikan 100cm permukaan laut akan menenggelamkan 6% daratan Belanda dan 17,5% daratan Bangledest. Kenaikan tinggi permukaan laut memengaruhi ekosistem pantai. Rawa-rawa  di daerah pantai akan tenggelam dan rawa-rawa baru terbentuk di daerah perkotaan atau daerah terbangun. Misalnya, kenaikan 50cm permukaan laut akan menenggelamkan separuh daerah rawa di Amerika Serikat. Dampak lain adalah air laut semakin masuk daratan di muara sungai.
Banjir pasang laut di daratan semakin meningkat. Pantai-pantai mengalami abrasi sehingga bukit-bukit pasir akan hilang.
3.    Hawa Semakin Panas
Akhir-akhir ini mungkin banyak orang merasakan hawa yang berbeda bila dibanding dengan beberapa  tahun yang lalu. Hawa terasa gerah saat hari cerah. Panas sinar matahari menyengat saat tengah hari dan sehabis hujan hawa tidak terlalu dingin. Fonomena tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi kenaikan suhu udara di atmosfer. Peningkatan panas atmosfer menyebabkan laut sebagai bagian teluas di bumi juga bertambah panas. Beberapa indikator bahwa hawa semakin panas adalah sebagai berikut :
1.    Suhu permukaan bumi telah mengalami kenaikan, dan dalam keadaan terpanas selama 2.000 terakhir.
2.    Suhu permukaan bumi meningkat secara signifikan terutama di kutub es. Daratan dan permukaan air baru muncul mudah menyerap panas matahari sehingga suhu kutub semakin panas dan es mencair.
3.    Suhu di kutub utara mengalami kenaikan tiga kali disbanding suhu rata-rata dunia. Bila terjadi kenaikan suhu permukaan bumi sebesar 30C, dalam 100 tahun kedepan permukaan laut akan naik 7 meter. Banyak daratan rendah di bumi tenggelam dan lenyap dari peta bumi.
4.    Pembakara bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan batu bara, meningkatkan kadar CO2 di atmosfer dan membuat air laut semaki asam. Keasaman air laut yang meningakat akan mematikan berbagai jenis ikan dan mengubah pola migrasi dan pemijahan.
Damapak kenaikan suhu permukaan bumi, antara lain :
1.    Bila suhu permukaan bumi naik 10C, gelombang pasang akan menenggelamkan rumah-rumah di pesisir, terjadi angin topan di Atlantik Selatan, dan kekeringan hebat di barat Amerika yang mengakibatkan produksi pertanian menurun.
2.    Bila suhu permukaan bumi naik 20C, akan mematikan banyak ekosistem terumbu karang dan ikan, banjir terjadi di banyak tempat, dan produktivitas pertanian menurun sehingga harga pangan naik.
3.    Bila suhu permukaan bumi naik 30C, hutan basah Amazon akan terbakar dan berkurang luasanya. Hutan Amazon yang memasok 20% oksigen dunia terancam punah sehingga hawa semakin panas.
4.    Bila suhu permukaan bumi naik 40C, kota-kota seperti Jakarta, Bangkok, London< mesir, dan Bangladesh akan tenggelam.
5.    Bila suhu permukaan bumi naik 50C, dunia akan mengalami krisis ekonomi dan politik. Konflik perebutan sumber daya ikan terjadi karena laut di daerah subtropis tidak lagi menjadi habitat ikan.
4.    Spesies Flora dan Fauna Berkurang
Pemanasa global mengakibatkan lapisan es di Arktika dan Antartika mencair. Selama musi panas di Arktika, beruang kutub berjalan jauh dari daratan es untuk berburu makanan. Bila massa di kutub mencair semakin banyak di musim panas, daerah perburua beruang kutub akan berkurang sehingga terjadi kekurangan makanan di musim dingin.pencairan es di Antartika menyebabkan habitat penguin semakin sempit. Penguin membutuhkan daerah es laut yang luas untuk hidup dan berkembangbiak. Daerah es laut yang luas membuat penguin aman dari ancaman hewan lain yang memburunya. Bila suhu air laut meningkat, sehingga banyak massa es mencair, penguin tidak lagi aman dan hidup bebas.
Hewan dan tumbuhan sulit menghindari dampak pemanasan global selama. Selama pemanasan global, hewan cenderung berpindah ke daerah yang dingin, seperti pengunungan dan daerah kutub karena habitatnya terlalu hangat. Namum, permukiman dan lahan pertanian menghalangi migrasi hewan. Ketika iklim gunung yang dingin menghangat, habitat tumbuhan pun berubah. Tumbuhan pegunungan Alpen yang biasa hidup dalam cuaca dingin bertunas semakin keatas untuk menghindari peningkatan suhu atmosfer. Di daerah tropis seperti Indonesia, penyusutan luas hutan bakau akibat kenaikan permukaan laut akan memusnakan jenis flora dan fauna tertentu. Suhu atmosfer yang semakin panas dapat meningkatkan kebakaran hutan sehingga berbagai jenis flora dan fauna hutan terancam punah.


No comments:

Post a Comment