1.
Penanaman Hutan Kembali
Pengundulan hutan terbukti
meningkatkan suhu permukaan bumi. Bila pohon-pohon di hutan di tebang, fungsi
pohon untuk menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida menjadi hilang.
Selama masa hidupnya, satu pohon dapat menyerap satu ton CO2. Satu
batang pohon berukuran agak besar mampu menyerap 6kg CO2 per tahun.
Penanaman kembali pada lahan gundul akan mengendalikan daya serap pohon
terhadap gas CO2 di atmosfer. Pemerintah melalui Departemen
Kehutanan menargetkan pada dua ratus orang Indonesia mampu menanam 230 juta
batang pohon. Upaya ini dilakukan dalam rangka berpatisipasi mengendalikan
perubahan iklim dan pemanasan global melalui gerakan “One Man One Tree”.
Pemuda dapat berperan dalam program
pemerintahan, yaitu Aksi Penanaman Serentak. Kampanye Indonesia Menanam
dicanangkan pemerintah pada 22 April 2006. Pemerintah menetapkan 28 November
sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Pencanangan itu ditetapkan pada saat
Presiden Susilo Bambang Yudoyono memimpin Aksi Penanaman Serentak 100 juta
pohon di Cibinong, Jawa Barat. Generasi muda diharapkan menjadi yang terdepan
dalam mendukung gerakan menanam pohon. Gerakan menanam pohon akan memulihkan
hutan yang rusak akibat pengundulan hutan. Gerakan menanam tidak terbatas pda
lahan bekas, tetapi dapat juga dilakukan
di lingkungan sekitar rumah. Selain itu, diperlukan juga penanaman kembali
lahan hutan bakau yang rusak di pantai.
2.
Aksi Hemat Energi
Pemanfaatan energi untuk memenuhi
kebutuhan manusia berdampak pada peningkatan kadar gas-gas rumah kaca penyebab
pemanasan global. Kegiatan industri, pembangkit listrik, dan transportasi
membutuhkan banyak bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil merupakan sumber energi
tidak terbarukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi
gas rumah kaca adalah mengurangi penggunaan sumber energi tidak terbarukan.
Masyarakat harus memulai menggunakan sumber energi terbarukan, seperti panas
Matahari, tenaga air, tenaga angin, dan kekuatan otot. Krisi energi menjadi
tantangan bagi generasi muda. Pemborosan energi akan menguras sumber daya alam
yang tidak terbarukan. Generasi muda dituntut untuk melakukan aksi penghematan
energi. Aksi dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan rumah.
Beberapa contoh aksi penghematan
energi adalah mematikan lampu, televisi, dan peralatan elektronik yang
menggunakan listrik bila tidak diperlukan. Mengganti lampu pijar dengan lampu
hemat energi. Membuka jendela dan ventilasi agar ruangan terang dan sejuk
sehingga tidak membutuhkan lampu dan kipas angin di siang hari.
Aksi penghematan energi dan
pengurangan emisi CO2 di lingkungan luar rumah dapat dilakukan
sebagai berikut :
a.
Mengendarai sepeda atau barjalan kaki untuk bepergian
jarak dekat sebagai pengganti kendaraan bermotor.
b.
Memilih menggunakan angkutan umum daripada kendaraan
pribadi yang dikendarai sendiri.
c.
Mananam pohon atau membuat taman di lingkungan rumah.
3.
Sedikit Sampah Lebih Baik
Tumpukan sampah turut menyumbang
terjadinya pemanasan global. Pengelolahan sampah yang baik akan menekam
terjadinya pemanasan global. Pengelolahan dapat dilakukan generasi muda dengan
tindakan reduce, reuse, recycle, replace dan composting.
Reduce (mengurangi),
sedapat mungkin meminimalkan barang atau material yang dipergunakan. Semakin
banyak menggunakan material, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Reuse (menggunakan
kembali), menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali
barang-barang yang sudah tidak terpakai. Contohnya, kertas warna-warni dari
majalah bekas di manfaatkan untuk bungkus kado. Menghindari barang yang hanya
sekali pakai atau langsung buang (disposable). Replace (mengganti), mengganti
barang hanya dapat dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama.
Contohnya, mengganti kantong kresek dengan kerancang bila berbelanja. Tidak
menggunakan Styrofoam karena bahan ini tidak dapat terurai secara alami.
Recycle (mendaur ulang), sampah diubah menjadi produk baru. Sampah yang di daur
ulang adalah brang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama,
seperti kertas, alumunium, gelas, dan plastik. Saat ini banyak industri
nonformal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang
baru. Composting (pembuatan kompos), proses pembusukan secara alami dari meteri
organik, misalnya daun, limbah pertanian, dan sisa makanan. Pembusukan dapat
menghasilkan meteri yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor, dan
kalium yang disebut kompos untuk pupuk tanaman.
No comments:
Post a Comment